![]() |
| Aisyah Adiba Syalsabilla, S.Gz dan Prof. Dr. Helmizar, SKM, M.Biomed
Program Studi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyaralat Universitas Andalas |
Isu ini bahkan kerap menjadi sorotan media lokal seperti Antara Sumbar dan Padang Ekspres, seiring meningkatnya perhatian pemerintah daerah dalam menekan angkanya.
Namun, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak. Lebih dari itu, kondisi
ini dapat menghambat perkembangan kecerdasan, melemahkan sistem imun,
hingga menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa depan (Fauziah et al.,
2023).
Karena itu, pencegahan harus dimulai sejak awal kehidupan. Pemberian ASI eksklusif, MP-ASI yang tepat, serta pemanfaatan pangan lokal bergizi seperti dadih yang kaya probiotik menjadi langkah strategis yang tidak hanya relevan secara ilmiah, tetapi juga kontekstual dengan budaya masyarakat (Febrianti et al.,
2025).
ASI Eksklusif: Pondasi Awal Kehidupan Sehat ASI eksklusif selama enam bulan pertama merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang bayi. Selain memenuhi kebutuhan gizi, ASI juga mengandung zat pelindung yang membantu mencegah infeksi, sehingga bayi yang tidak mendapatkannya lebih berisiko mengalami gangguan pertumbuhan hingga stunting
(Hasanalita Hasanalita, 2022).
Keberhasilan ASI eksklusif juga sangat dipengaruhi oleh praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Kontak kulit ibu dan bayi sejak awal kelahiran terbukti dapat merangsang produksi ASI sekaligus memperkuat ikatan emosional, sehingga mendukung keberlanjutan menyusui (Saleha & Sulastriningsih, 2022).
MP-ASI: Tidak Sekadar Kenyang, tetapi Berkualitas Gizi
Memasuki usia enam bulan, kebutuhan energi dan zat gizi bayi meningkat sehingga diperlukan MP-ASI sebagai pendamping ASI. Pemberiannya harus dilakukan secara tepat, baik dari segi waktu, kecukupan gizi, keamanan, maupun
cara pemberian (Siti & Maulana, 2020).
Namun, praktik di masyarakat masih perlu ditingkatkan. Pemberian MPASI yang terlalu dini serta kualitas gizi yang belum seimbang masih kerap terjadi dan berkaitan dengan meningkatnya risiko stunting pada balita (Nurilma Hidayatullah et al., 2021).
Peran Probiotik Dadih: Kearifan Lokal yang Bernilai Strategis Dadih, sebagai produk fermentasi susu kerbau khas Sumatera Barat,
merupakan pangan lokal yang kaya probiotik. Kandungan bakteri baik di dalamnya
berperan menjaga kesehatan usus sehingga membantu penyerapan zat gizi secara
optimal .
Selain itu, probiotik dalam dadih juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan melindungi dari infeksi saluran cerna. Dengan potensi tersebut, pemanfaatan dadih sebagai pangan lokal menjadi langkah sederhana namun
strategis dalam mendukung pencegahan stunting berbasis kearifan lokal (Febrianti
et al., 2025).
Faktor Lain: Pola Asuh dan Sanitasi Lingkungan
Selain asupan gizi, pola asuh dan kondisi sanitasi lingkungan juga berperan penting dalam menentukan status gizi anak. Pola asuh yang baik mencakup pemberian makan yang tepat, menjaga kebersihan, serta pemanfaatan
layanan kesehatan, yang semuanya berkontribusi pada tumbuh kembang anak
(Endah Mawarni et al., n.d.) Di sisi lain, sanitasi yang kurang baik dapat meningkatkan risiko infeksi seperti diare, yang pada akhirnya menghambat penyerapan zat gizi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak cukup hanya dari aspek makanan,
tetapi perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk perbaikan pola asuh dan
lingkungan (Nikmah et al., 2024).
Upaya Pencegahan dan Penanganan Stunting
Upaya penanggulangan stunting memerlukan pendekatan komprehensif
yang melibatkan berbagai sektor, meliputi:
1. Intervensi spesifik
• Promosi ASI eksklusif
• Edukasi MP-ASI
• Suplementasi gizi
2. Intervensi sensitif
• Perbaikan sanitasi
• Ketahanan pangan keluarga
• Edukasi pola asuh
3. Pemanfaatan pangan lokal
• Pengembangan dadih sebagai sumber probiotik
• Diversifikasi pangan lokal
4. Peran multipihak
Pendekatan ini sejalan dengan strategi global percepatan penurunan
stunting yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Tanpa sinergi antara
pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat, upaya pencegahan
stunting sulit mencapai hasil yang optimal.
Penutup Stunting bukanlah takdir, melainkan masalah yang dapat dicegah.
Melalui ASI eksklusif, MP-ASI yang tepat, perbaikan sanitasi, serta pemanfaatan pangan
lokal seperti dadih, kita dapat membangun generasi yang lebih sehat dan
berkualitas. Investasi terbaik dimulai dari 1.000 hari pertama kehidupan dan itu
membutuhkan komitmen kita bersama.
REFERENSI
Endah Mawarni, E., Anitarini, F., & Studi, P. S. (n.d.). Pola asuh ibu dalam mendukung status gizi baik anak (Mother parenting patterns in supporting the good nutritional status of children). Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama Tuban, 4(2), 76–81.
Fauziah, J., Trisnawati, K. D., Rini, K. P. S., & Putri, S. U. (2023). Stunting: penyebab, gejala, dan pencegahan. Jurnal Parenting dan Anak, 1(2), 11. https://doi.org/10.47134/jpa.v1i2.220
Febrianti, F., Anggraini, O. R., Sari, D. R., Harly, R., & Amri, M. (2025). Potensi dadih sebagai alternatif sumber protein hewani dan pangan tradisional bergizi asal Sumatera Barat. STOCK Peternakan, 7(1), 70–77. https://ojs.umb-bungo.ac.id/index.php/Sptr/article/view/1741
Hasanalita, H. (2022). Hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan pelaksanaan inisiasi menyusui dini di Kute Desa Kaya Pangur. Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan, 1(3), 156–168. https://doi.org/10.55606/klinik.v1i3.2015
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Buku saku hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022.
Nikmah, R., Afrinis, N., & Apriyanti, F. (2024). Pola asuh, sanitasi lingkungan, kejadian underweight di Desa Alahair, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik, 3(1), 40–47. https://doi.org/10.25182/jigd.2024.3.1.40-47
Nurilma Hidayatullah, R., Fadilah Utami, R., Shafira Putri, R., Khasanah, R., & Rosa, S. (2021). Perilaku pemberian MP-ASI dini di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat (Pengmaskesmas).
Saleha, S., & Sulastriningsih, K. (2022). Early initiation of breastfeeding in postpartum mothers. Homes Journal, 3(3).
